Majas metafora adalah gaya bahasa kiasan yang digunakan untuk membandingkan dua objek secara langsung karena mempunyai sifat yang mirip atau hampir sama. Gaya bahasa ini menyandingkan sebuah kata atau frasa dengan makna di luar arti aslinya untuk menggambarkan suatu situasi secara lebih hidup. Kita sering menemukannya dalam karya sastra seperti puisi, novel, cerpen, bahkan dalam percakapan sehari-hari.
Pemahaman materi tentang majas metafora merupakan modal penting bagi para siswa, terutama dalam mempersiapkan diri menjelang ujian seperti UTBK. Gaya bahasa ini sering muncul dalam soal-soal literasi Bahasa Indonesia untuk menguji kemampuan membaca teks sastra. Mengenal jenis kiasan ini membantu kita menangkap pesan tersirat di dalam bacaan dengan lebih cepat dan tepat.
Mempelajari gaya bahasa kiasan ini sangat mudah jika kita membaginya ke dalam beberapa poin penting. Berikut adalah hal-hal yang akan kita bahas bersama:
- Definisi dan karakteristik utama kiasan metafora.
- Perbedaan mendasar dengan gaya bahasa simile.
- Pembagian kelompok berdasarkan cara penyampaiannya.
- Daftar lengkap frasa metafora beserta maknanya dalam kalimat.
Apa Itu Majas Metafora dan Karakteristiknya?
Majas menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah cara melukiskan sesuatu dengan jalan menyamakannya dengan sesuatu yang lain. Kebanyakan orang juga sering menyebut majas dengan istilah kiasan.
Penggunaan kiasan dalam karya sastra bertujuan untuk memperindah pilihan kata sekaligus membantu pembaca membayangkan cerita atau sosok yang sedang digambarkan.

Ciri-Ciri dan Karakteristik Majas Metafora
Ciri-ciri dari majas metafora meliputi tiga hal utama berikut ini:
- Tidak menggunakan kata hubung dalam kalimatnya.
- Membandingkan objek atau tindakan dengan objek atau tindakan lainnya menggunakan kata-kata kiasan.
- Tidak menggunakan kata-kata pembanding, seperti bak, bagaikan, seperti, dan lain sebagainya.
Karakteristik ini yang membedakannya dengan majas simile. Perbedaan majas metafora dan simile adalah majas simile menggunakan kata-kata pembanding seperti bak, layaknya, atau bagaikan. Contoh majas simile yang paling populer adalah “bagai pungguk merindukan bulan”. Sementara itu, metafora langsung menunjuk objeknya tanpa kata pembanding tersebut.
Dua Jenis Majas Metafora yang Perlu Diketahui
Pemahaman mengenai pembagian jenis kiasan ini membuat persiapan UTBK para peserta menjadi lebih matang. Majas metafora terbagi ke dalam dua jenis utama, yaitu:
1. Majas Metafora Eksplisit
Objek atau tindakan dalam jenis ini akan dibandingkan secara langsung dan tegas. Contoh kalimat majas metafora ini adalah:
“Andi adalah buaya darat”
Dalam kalimat singkat ini, penulis ingin menggambarkan bahwa Andi adalah seorang playboy yang gemar berburu wanita, sama seperti buaya yang tinggal di darat.
2. Majas Metafora Implisit
Perbandingan antara dua objek atau tindakan yang berbeda dalam jenis ini digambarkan secara tidak langsung atau lebih halus. Contoh kalimat majas metafora ini adalah:
“Dani adalah siswa yang pintar, karena dia adalah anak kutu buku.”
Kalimat tersebut menggunakan frasa kutu buku untuk menggambarkan sifat Dani yang suka membaca buku dan rajin mengunjungi perpustakaan, tanpa harus menyebutkan aktivitas membacanya secara tersurat.
Contoh Majas Metafora dan Maknanya
Ada banyak kata kiasan yang sering digunakan menjadi majas metafora dalam puisi maupun prosa. Berikut ini adalah daftar contoh beserta maknanya di dalam kalimat:
| Kata Kiasan | Makna Frasa | Contoh Penggunaan dalam Kalimat |
| Tangan kanan | Seseorang yang diandalkan | “Pak Prayogo adalah tangan kanan Pak Bupati.” |
| Bermuka dua | Munafik (lain di mulut, lain di hati) | “Jangan percaya omongannya. Dia adalah sosok yang bermuka dua.” |
| Panjang tangan | Suka mencuri | “Hati-hati dengan orang berpanjang tangan, seperti Kalisha.” |
| Kembang desa | Perempuan cantik idaman banyak orang | “Brianna adalah kembang desa yang disukai banyak pria.” |
| Buaya darat | Playboy | “Andi adalah seorang buaya darat.” |
| Kepala batu | Keras kepala, susah dikasih tahu | “Kamu memang kepala batu! Susah sekali dinasehati.” |
| Makan hati | Dongkol, sebal | “Nggak mau aku ngomong sama dia. Makan hati terus!” |
| Kepala dingin | Pikiran yang tenang | “Sebelum mengambil keputusan, sebaiknya dinginkan kepalamu itu dulu.” |
| Kabar burung | Rumor, gosip yang perlu diperiksa | “Beredar kabar burung kalau Pak Suyatno mengambil sebagian besar uang kas desa.” |
| Kecil hati | Sedih, kecewa | “Nggak usah berkecil hati. Insya Allah akan dapat pengganti yang lebih baik.” |
| Sampah masyarakat | Orang yang memberi kontribusi buruk | “Sampah masyarakat sepertimu sebaiknya tidak boleh bebas berkeliaran.” |
| Angkat kaki | Pergi dalam konotasi kurang baik | “Karena resah dengan topik yang didiskusikan, Fatma akhirnya angkat kaki dari forum tersebut.” |
| Makan asam garam | Memiliki banyak pengalaman hidup | “Makan asam garam hidup itu penting, supaya kamu bisa jadi orang yang lebih dewasa dan bijaksana dalam menghadapi masalah kehidupan.” |
| Tinggi hati | Sombong | “Orang yang tinggi hati seringkali mengabaikan kondisi masyarakat yang ada di sekitarnya.” |
| Rendah diri | Kurang percaya diri | “Kegagalan tidak seharusnya menjadikanmu sebagai orang yang rendah diri.” |
| Rendah hati | Tidak sombong, tahu kualitas diri | “Sita memang orang yang rendah hati, tidak marah kalau dikritik.” |
| Otak udang | Bodoh (konteks akademis) | “Tidak ada anak yang berotak udang. Kamu hanya belum mengetahui bakatmu di bidang apa saja.” |
| Uang haram | Harta yang diperoleh tidak jujur/ilegal | “Begitulah uang haram. Gampang didapat, tapi gampang juga ilangnya. Nggak berkah!” |
| Ringan tangan | Suka memukul / suka menolong | “Ayahmu itu memang orang yang ringan tangan. Cepat kali ia pukul barang.” atau “Orang yang ringan tangan, seperti dia niscaya harta bendanya diberkahi tuhan.” |
| Suara emas | Suara bagus, pandai bernyanyi | “Kamu punya suara emas. Kenapa nggak ikut audisi saja?” |
| Berat hati | Terpaksa | “Ayah dengan berat hati merelakanmu pergi.” |
| Darah biru | Keturunan bangsawan | “Raden atau Roro umum digunakan sebagai nama depan orang yang berdarah biru.” |
| Berpangkutangan | Tidak melakukan apa-apa, malas | “Alih-alih terus berpangku tangan mengharapkan hasil orang lain, tentu akan lebih baik jika kamu mengerjakannya sendiri.” |
| Bintang kelas | Orang yang berprestasi di kelas | “Sebagai bintang kelas, Amanda tidak pernah pelit membagi ilmu kepada teman-temannya.” |
| Lapang dada | Ikhlas, rela | “Dengan lapang dada, Aris merelakan kekasihnya pergi dengan orang lain.” |
| Jago merah | Api | “Dengan cepat, si jago merah terus melalap bangunan yang terbuat dari bambu dan kayu.” |
| Tulang punggung | Orang yang mencari nafkah keluarga | “Dea adalah tulang punggung keluarganya setelah ayah dan ibunya tiada.” |
| Belahan jiwa | Kekasih, seprinsip | “Tidak mudah untuk mencari belahan jiwa, walau satu saja.” |
| Tebal muka | Tidak punya malu (negatif) | “Orang yang tebal muka, seperti dia, peraturan seperti apapun pasti dilawan.” |
| Kambing hitam | Menanggung kesalahan orang lain | “Aku sudah bosan dijadikan kambing hitam terus.” |
Hal paling penting yang harus diingat adalah majas metafora selalu membandingkan dua objek secara langsung berdasarkan kemiripan sifatnya tanpa menggunakan kata pembanding (seperti, bak, bagaikan) sehingga bahasanya menjadi lebih lugas namun tetap bernilai estetis.





